Kolaborasi UIN Sultanah Nahrasiyah dan UPI Hadirkan Konseling Berbasis Pengalaman

Lhokseumawe - Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) serta Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) UIN Sultanah Nahrasiyah menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dalam pengembangan metode Adventure Based Counseling (ABC). Kerja sama ini menjadi bagian dari penguatan layanan psikososial pascabanjir di wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Agreement (IA) yang berlangsung di Aula Biro Rektorat UIN Sultanah Nahrasiyah, Jumat (6/2/2026). Penandatanganan dilakukan oleh Prof. Dr. Nandang Rusmana, M.Pd., dari Program Studi Bimbingan dan Konseling UPI bersama pimpinan Program Studi BKI dan BKPI UIN Sultanah Nahrasiyah.

Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Sultanah Nahrasiyah, Dr. Ruhama Wazna, S.Thi., M.A., mengatakan kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat pengembangan keilmuan bimbingan dan konseling agar lebih relevan dengan dinamika sosial dan kebutuhan masyarakat.

“Pendekatan Adventure Based Counseling menghadirkan model intervensi yang lebih kontekstual dan aplikatif, terutama dalam merespons kondisi pascabencana yang membutuhkan penanganan psikososial secara komprehensif. Metode ini mendorong konselor untuk tidak hanya berfokus pada pendekatan teoritik, tetapi juga memanfaatkan pengalaman langsung sebagai media refleksi, pemulihan, dan penguatan psikologis konseli,” ujarnya.

Ia menambahkan, kerja sama dengan UPI tidak hanya memperluas jejaring akademik, tetapi juga membuka ruang pertukaran keahlian dan penguatan kompetensi profesional dosen serta mahasiswa. Menurutnya, kolaborasi lintas perguruan tinggi menjadi penting untuk memastikan pengembangan keilmuan tetap adaptif terhadap perubahan sosial dan tantangan di lapangan.

“Melalui pelaksanaan Training of Trainer Adventure Based Counseling, kami berharap dapat melahirkan konselor-konselor yang adaptif, inovatif, dan memiliki sensitivitas sosial yang kuat. Sinergi ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu memberi dampak berkelanjutan bagi pengembangan keilmuan sekaligus peningkatan kualitas layanan konseling yang dibutuhkan masyarakat,” pungkasnya. (RM)

Share this Post